Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)

Hanya satu kata, Lawan! Kalimat pendek itu lebih dikenal ketimbang Wiji Thukul, penyair yang menuliskan puisi perlawanan tersebut. Hanya satu kata, lawan! telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otoritarianisme. Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan. (Munir, Alm) ..


Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi) Reviews

Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
Pipitta

Buku ini jadi koleksi gw yang terbaru. Ada 5 sub bagian kumpulan puisi di sini, masing-masing: Lingkungan Kita Si Mulut Besar; Ketika Rakyat Pergi; Darman Dan Lain-lain; Puisi Pelo, and Baju Loak Sobek Pundaknya.

Tiga puisi yang paling gw suka: Aku Menuntut Perubahan, Bunga dan Tembok, and Peringatan. Puisi ini khas Thukul, terdiri dari kalimat-kalimat pendek yang tajam dan sarat makna. Bahasanya nggak berbunga-bunga, dan sangat mencerminkan realitas sosial. Tapi puisi-puisi yang ada di bagian D
...more

Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
Farah Rizki

Biasanya menemukan petikan-petikan puisinya tercecer tak beraturan dari bermacam-macam sumber. Entah menjadi kutipan yang diambil untuk melengkapi opini orang lain, pernah menjadi bahan musikalisasi puisi. Cukup telat menikmati tulisannya secara utuh, bukan berarti tidak mencari tulisan-tulisannya yang lain. Sekali membaca puisinya, saya pun jatuh cinta dengan puisi-puisi lainnya. Setiap kali membaca ulang, rasanya seperti baru membaca untuk pertama kali. Saya rasa saya akan menjadikannya salah ...more

Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
Farah Fitria Sari

"[...]

kutundukkan kepalaku

kepada semua kalian para korban

sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk

kepada penindas

tak pernah aku membungkuk

aku selalu tegak"

-Tujuan Kita Satu Ibu

7/5

Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
Hasanuddin

Kumpulan puisi Wiji Thukul, menggunakan bahasa yang ringan, jarang menggunakan kiasan personifikasi. Karena bahasa yang dipakai adalah bahasa sehari-hari dan merakyat. Wiji Thukul, mungkin juga W. S. Rendra, Taufik Ismail hingga pemusik Iwan Fals, di era 80an hingga 90an banyak mengungkap kritik sosial. Ketidakadilan penguasa, kebijakan yang prematur, kemiskinan dan derita kaum terpinggirkan berbaur dengan kelaparan dan hukum yang tidak jelas penerapan kerap disinggung. Dan tema ini sebenarnya t ...more

Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
Aini Akmalia

Nama Wiji Thukul bukanlah suatu nama yang asing di kalangan pembaca di Indonesia. Namanya cukup dikenali sebagai antara barisan penyair kontroversi, malah kisah hidupnya juga banyak yang misteri. Aku Ingin Jadi Peluru merupakan kumpulan puisi pertama beliau yang saya pernah baca. Memang padanlah puisi-puisi Wiji Thukul dikatakan kontroversi. Puisinya sangat membakar, dan membangkitkan semangat revolusi dan demonstrasi.

Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
leii

murung, putus asa, sesekali harapan, adalah ciri dari mereka yang terperangkap. tapi tidak menyerah dan kalah. upaya perlawanan dilakukan dengan membuat simbol -juga metafora, untuk menjangkau keluar dari dirinya, atau masuk ke dalam dirinya. gerak dari ruh yang gelisah ini, membutuhkan ruang, yaitu bahasa. maka bahasa pun bergerak. ia mengerahkan huruf-hurufnya, demi melayani gelisahnya kesadaran, atau hasrat kesadaran untuk mengangkat dirinya, merebut makna dunia yang tak dikenalinya, atau cob ...more

Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
Abdul Wahid Muhaemin

Meskipun keberadaan penulis masih menjadi misteri hingga kini, namun sajak-sajak dalam buku ini amatlah jelas menunjukan goresan kata-kata yang amat tajam, setajam peluru yang diarahkan pada rezim otoriter orde baru. Imbasnya dengan perangkat lunak "subversif" yang dioperasikan pemerintahan Soeharto, ia (di)hilang(kan) bersama 12 aktivis lainnya karena dianggap mengancam kestabilan politik nasional. Apalagi Wiji tidak hanya menulis sajak-sajak, tetapi juga ikut turun ke jalan bersama kelompok ma ...more

Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
Syamsul Fikri

Sosok mitologi Wiji Thukul perlahan mulai dipahami dalam "Aku Ingin Jadi Peluru" ini. Kumpulan sajaknya begitu dekat dengan perjuangan, penderitaan, dan kezaliman sebuah rezim. Setiap katanya menenggelamkan kita ke dalam dirinya. Aku juga ingin jadi peluru.